Cerita dari Porter Gunung Rinjani

Cerita dari Porter Gunung Rinjani

IA TERSOHOR DENGAN KEKUATAN, kesigapan, dan keramahannya di seantero dunia pendaki.

Tak seperti pendaki kebanyakan, ia tidak menggunakan tas carrier besar. Meski begitu, beban yang  dibawa hampir tiga kali lipat pendaki normal.

Di usianya yang tak lagi muda, matanya masih sigap dari kejauhan mengawasi kelengkapan pendaki yang ia jaga.

Urat urat muncul di kakinya yang berotot, kulitnya legam terbakar matahari, kekuatannya dan kecepatannya yang luar biasa membuat malu pendaki pendaki muda yang terlalu bangga akan persinggahannya di tanah dewi anjani – termasuk saya sendiri.

Dengan segala perlengkapan berat dan logistik, ia selalu berlari di depan. Bukan karena ia tidak cukup sabar menunggu klien-nya yang berjalan lambat, tetapi ia ingin memastikan saat pendaki yang ia jaga sampai di pos, tenda sudah berdiri beserta makanan dan minuman hangat sudah siap tersaji.

Beralas sandal jepit, dengan gagahnya ia melaju bak tank perang. Hanya sebuah sarung yang melindunginya dari dinginnya cuaca pegunungan. Tak ayal, tenda yang ia gunakan hanyalah sebuah ‘bivak’ dengan terpal dan bambu.

Luar biasa, dengan segala beban itu ia tetap tersenyum. Menyapa setiap pendaki yang ia temui. Merekalah yang membuat keindahan Rinjani menjadi lebih berwarna.

Nepal DTD Trip, Memulai Perjalanan Dengan Kesabaran

Nepal DTD Trip, Memulai Perjalanan Dengan Kesabaran

Minggu ketiga di bulan Januari 2017, tiga bulan sebelum tanggal keberangkatan, akhirnya saya memesan tiket pesawat setelah paspor pak Ferry, –my travel buddy-, selesai diperpanjang. Harga tiket sudah naik 200 ribu, tetapi masih jauh lebih murah daripada maskapai lain yang mematok harga hingga 7 juta pp. Nilai setengah dari maskapai lain itu memang menggiurkan tetapi jika di-blacklist karena suka delay, bagaimana ya? Pemikiran yang datang tiba-tiba itu langsung diabaikan karena tergerus harga yang sangat menggoda. Bukankah Malindo merupakan maskapai campuran dari Lion Group Malaysia? Dengan harapan manajemen Malaysia lebih baik dari Lion Indonesia, akhirnya saya memesan tiket untuk Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu. Dan cerita perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness pun dimulai…Dan dua bulan sebelum keberangkatan, datanglah email pemberitahuan dari maskapai yang grupnya itu sering dihinadina oleh para pejalan itu.

Isinya jelas, penerbangan saya mengalami penjadwalan ulang. Mengutip sumpah serapah komik jaman muda dulu, seribu setan belang, saya mulai mengomel berkepanjangan. Bagaimana tidak, saya memilih penerbangan paling pagi dari Jakarta ke Kuala Lumpur lalu transit sebentar lalu terbang lagi ke Kathmandu sehingga bisa mendarat di Negeri di atas awan itu jelang sore. Itu memang tujuan saya, mengambil penerbangan ke Kathmandu sore hari, demi melihat jajaran pegunungan bertudung salju yang sangat indah. Dalam perjalanan pertama ke Nepal dua tahun lalu, saya duduk di jendela sebelah kanan menikmati keindahan itu. Tentu saja saya ingin mengalaminya lagi. Normal kan? Lagi pula sampai di Kathmandu sore akan lebih baik daripada malam, paling tidak bisa belanja melengkapi trekking gears.Tetapi memang dasar setan belang, semua bermula dari jadwal penerbangan Kuala Lumpur ke Kathmandu dimajukan semena-mena dan tidak dapat dikejar oleh penerbangan dari Jakarta. Akibatnya, secara sepihak seluruh penerbangan saya dimundurkan semua. Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur dipindahkan ke tengah hari dan penerbangan ke Kathmandu dipindahkan ke sore hari yang otomatis sampai sana jam 8 malam! Bagaimana mau melihat pegunungan berpuncak salju pada malam hari? Lalu dengan memperhitungkan proses visa dan bagasi yang lama, apakah masih ada toko yang buka pada malam hari? Dan pastinya rencana jalan-jalan di obyek wisata Kathmandu berantakan semua! Dasar setan belang…!Siang itu juga saya langsung berdiskusi dengan pak Ferry mencari solusi namun pertimbangan uang tetap menjadi primadona karena tidak mau rugi dua kali. Selama masih di tanggal yang sama hanya beda jam kelihatannya masih bisa diterima. Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Selesai…?

Belum!

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, saya masuk ke situs Traveloka dan mencoba mencetak ulang tiket dengan jadwal baru, namun hasilnya masih jadwal lama! Lhah, apa lagi ini??! Sampai saya harus memeriksa ke situs Malindo untuk memastikan kami terdaftar sebagai penumpang dalam penerbangan siang dari Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu itu dan untung saja kami memang terdaftar dengan jadwal baru. Berbagai cara ditempuh tetap tidak bisa mencetak jadwal baru melalui Traveloka, lalu akhirnya saya nekad akan pergi pada hari keberangkatan menuju bandara berbekal informasi terkini di ponsel. Paling-paling berurusan dengan petugas pintu masuk yang mungkin mencegat saya masuk. Jadi harus siap-siap sabar!

Belum lagi soal packing ransel. Karena belum terbiasa menata di Osprey 36L, saya perlu waktu hingga seminggu karena banyak barang sesuai ceklist yang tidak bisa masuk. Hal remeh ini melelahkan fisik dan memerlukan pengorbanan untuk bisa meninggalkan barang-barang kesayangan yang tidak perlu dalam trip ini.

Dan akhirnya sampai juga di hari keberangkatan untuk perjalanan Dare To Dream ini! Bismillah…

Di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta saya menunggu Pak Ferry di depan pintu masuk. Saya merasa tidak pede karena sudah mengenakan pakaian trekking lengkap dengan carrier di punggung, daypack di depan dan sepatu trekking, hanya untuk mengirit tempat! Agak saltum di bandara Jakarta yang lebih cocok dengan pakaian casual atau business. Tapi tak lama kemudian datanglah travel buddy yang juga lengkap dengan pakaian trekking, ransel dan sepatunya. Dua orang saltum di bandara Soekarno-Hatta 😀

Berhasil melewati petugas depan yang tidak memperhatikan jam berangkat, kami langsung membungkus carrier dengan plastik agar aman sebagai bagasi. Lalu melangkah pasti menuju konter Malindo untuk check-in. Tapi ternyata kami ditolak karena terlalu awal! Duh… sistemnya pasti masih kuno sehingga tidak bisa check-in sebelum waktunya. Hallooooo… Malindo, sekarang sudah tahun 2017!
Satu jam menunggu konter check-in buka, kami kembali berdiri di antrian konter. Satu orang dilayani lebih dari 15 menit. Lalu terlihat Sang Supervisor bolak-balik antar konter dengan muka kusut, memberikan tanda-tanda buruk. Apalagi petugasnya sering memanjangkan leher melihat ke konter sebelahnya, sambil bertanya-tanya. Adegan itu tak berkesudahan. Alamak! Dan akhirnya penumpang di depan konter selesai dan meninggalkan konter sambil bersungut-sungut mengomel. Di depan saya masih tiga orang dengan kecepatan proses yang tidak beda dengan sebelumnya! Sabar… tapi dimana Sabar??? Saya menggoyangkan kepala laksana boneka India sambil bertanya dalam hati, masih mau menggunakan maskapai ini? Rasanya saat itu saya melimpah rindu kepada maskapai apapun yang proses check-innya mudah dan cepat!

Ternyata kegaduhan sejak proses check-in yang lama itu rupanya berlanjut. Cepatnya imigrasi yang bertolak belakang dengan layanan check-in itu, membuat kami punya waktu untuk makan roti sejenak walaupun setelahnya tergopoh-gopoh juga ke pintu keberangkatan karena waktunya tak lama lagi. Namun, di ruang tunggu itu, kami menanti si pesawat yang tak kunjung tiba. Setelah memanjang-panjangkan leher, pesawat itu tak muncul juga. Dan dimulailah dramanya. Tapi supaya singkat, setelah ditunda sekali, ditunda dua kali, ditunda lagi…. dan lagi, hufft… akhirnya kami boarding juga. Ada kelegaan…

Selesai?

Belum!

Setelah sikut kiri, sikut kanan, tidak mau antri saat boarding, ditambah berebut ruang bagasi atas, akhirnya semua penumpang duduk di kursinya masing-masing. Sepuluh menit…, lima belas menit…, setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda pesawat bergerak. Tanpa ada pemberitahuan. Saya yang jatuh tertidur sampai bangun lagi, pesawat juga belum bergerak. Hedeeew… ada apa ini?

Dan setelah sekian lama, akhirnya pilot bicara meminta maaf dan bla-bla-bla…, lalu pesawatpun bergerak. Itu pun masih masuk antrian ketiga untuk dapat clearance terbang. Dan saat itu sudah 2 jam tertunda dari jadwal seharusnya, padahal waktu transit di Kuala Lumpur untuk penerbangan selanjutnya ke Kathmandu hanya beda 2 jam!

Tidaaaaakkkk…!

Di pesawat saya diskusi dengan Pak Ferry seandainya tidak bisa mengejar penerbangan ke Kathmandu, what’s next? Rupanya Pak Ferry sama seperti saya yang tidak terlalu menetapkan target. Dengan santai dia mengatakan untuk memotong jalur ABC tanpa lewat Poonhill. Saya setuju. Paling tidak saya bisa bersyukur lega karena travel buddy bisa sangat fleksibel (diluar sana lebih banyak orang yang kaku dan ngotot!)

Pasrah dengan penerbangan dengan jadwal suka-suka ini, saya mencoba tidur kembali selagi bisa dan menikmati makanan gratis yang ternyata rasanya lumayan. Ah, bukankah ada nilai-nilai yang patut disyukuri dalam setiap keadaan? Iya siiih, tetapi….

Singkat cerita… setelah mendarat di KLIA, pada saat pesawat baru saja berhenti dan membuka pintu di garbarata, pada jam itulah saya seharusnya terbang ke Kathmandu! Dalam hati saya hanya bisa menjerit galau, masih mau pakai maskapai ini? Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Berbeda dengan terminal KLIA2 yang sudah familiar karena biasa menggunakan AirAsia, saya tak kenal dengan terminal KLIA yang sering digunakan oleh maskapai-maskapai non-budget. Saya tak tahu lokasi transfer dan gerbang-gerbangnya. Perlu waktu untuk membiasakan dan kali ini tidak ada waktu untuk membiasakan! Matek!

Antrian keluar dari pesawat terasa sangat lama sehingga ketika menjejak kaki di gedung terminal, Pak Ferry dan saya langsung tergopoh-gopoh lari menuju papan informasi untuk memeriksa gerbang keberangkatan dengan harap-harap cemas pesawat belum berangkat. Oh My God, help us…

Dan wow!!! PertolonganNya selalu datang tepat pada waktunya. Di papan jelas tercetak nomor penerbangan kami dengan status Boarding! Aha, baru kali ini saya suka dengan pesawat yang delay! 🙂
Tak perlu perintah dua kali, Pak Ferry dan saya lari lagi menuju gerbang menggunakan feeling. Semoga benar! And God is on my side, jalurnya benar! Tapi di depan gerbang, saya tertahan, tidak boleh masuk. Aduh, botol minuman masih berisi air yang harus dibuang. Saya menoleh ke kiri kanan mencari tempat pembuangan air atau tempat sampah. Tidak ada sama sekali, sehingga dengan terpaksa saya lari lagi ke toilet untuk membuang air kemudian lari kembali ke gerbang untuk langsung boarding.

Hah…hah…hah…. Nafas rasanya mau putus…

Boarding berjalan lancar dan tempat duduk di sekitar saya lebih banyak kosong sehingga terasa agak lega. Tetapi menit demi menit berlalu, pesawat pun juga tak jelas kapan terbangnya. Ditambah dengan antrian clearance terbang. Aduh… masa’ pengalaman di Jakarta berulang? Ampuuun…

Hanya bisa berbekal sabar dan harap, akhirnya pesawat terbang juga meniti waktu, jam demi jam menuju Kathmandu. Saya lebih banyak tidur membayangkan jauh di sebelah kanan seharusnya mulai terlihat pegunungan tinggi berpuncak salju yang kini tak mungkin terlihat karena hanya kegelapan yang menghias jendela. Tapi bukankah saya telah menerima perubahan jadwal ini dengan segala konsekuensinya? Menyesali tak akan mengubah apapun. Saya menerima apapun yang terjadi…

Benar. Apapun yang terjadi, saya telah berani melangkah dalam perjalanan menuju impian yang mewujud.

Main ke Pantai di Corsica, Jadi Satu-satunya Orang Asia Di Sana

Main ke Pantai di Corsica, Jadi Satu-satunya Orang Asia Di Sana

Apakah kamu pernah mendengar nama Corsica? Saya sendiri belum, sampai ketika mencari tiket pesawat dan menemukan destinasi menarik di musim panas ini. Corsica adalah sebuah pulau di Perancis, lokasinya dekat sekali dengan Pulau Sardinia di Italia. Corsica merupakan nama lokal dari pulau ini, sementara nama dalam bahasa perancis nya adalah Corse. Lalu apakah pulau ini layak dikunjungi? Apakah pantai di Corsica mampu bertanding dengan pantai-pantai di negara tropis?

Memang agak aneh ya buat kita, orang Indonesia, mantai di Eropa. Apakah kurang banyak pantai-pantai cantik di Indonesia? Tentu bukan itu masalahnya. Buat saya sendiri, mengeksplor destinasi baru adalah kesenangan tersendiri, apa lagi destinasi yang jarang didengar orang. Lagi pula, saat ini saya sedang berada di Benua Biru, jadi lebih dekat untuk terbang ke Corsica dibanding ke Indonesia.

Sebelum kita membahas bagaimana pantai di Corsica, saya mau kasih tau dulu akses ke pulau ‘Bali’-nya Perancis ini. Jadi ada beberapa kota besar di Corsica yang memiliki akses bandara dan pelabuhan. Untuk akses bandara, kota-kota tersebut adalah Ajaccio, Bastia, Calvi, dan Figari. Sementara jika kamu mau naik ferry dari Perancis, kamu bisa naik ferry ke Calvi, L’ille-Rousse, Ajaccio, dan Bastia. Saya sendiri memilih terbang dari Geneva ke Calvi. Hanya dalam waktu 45 menit, saya sudah tiba di destinasi musim panas orang-orang Perancis! Bahkan lebih dekat dari Jakarta – Bali. Untuk tiket pesawatnya sendiri, ada banyak pilihan. Kalau mau cari tiket pesawat murah, tentunya ada EasyJet, pesawat berbiaya rendah.

Tentu ada banyak pantai di Corsica, tapi kali ini saya mau bahas sebuah pantai yang cukup berkesan buat saya. Kenapa? Selain lokasinya yang agak nyempil dan sedikit lebih sepi, saya juga bisa menjadi satu-satunya orang Asia di pantai tersebut.Jadi setelah terbang ke Calvi, saya memutuskan untuk naik kereta ke L’ile Rousse. Menurut saya L’ile Rousse sangat lah menawan. Serius! Rasanya saya bisa tinggal di sana lebih lama dari dua minggu! Meskipun kecil namun arsitekturnya cantik-cantik dan orang-orangnya sangat ramah.Dari L’ile Rousse, ada sebuah pantai yang jaraknya sekitar 3 km. Untungnya ada kereta penghubung antara Calvi dan L’ile Rousse yang melewati pantai ini. Oh iya, namanya Pantai Bodri. Berhubung kalau jalan kaki panas banget, jadi lebih baik naik kereta aja. Memang jadwalnya sekitar 2 jam sekali di saat musim liburan gini, makanya baik-baik dalam menyusun jadwal perjalanan saat di Corsica.

Pagi-pagi sebelum pantai dipadati ribuan orang, berangkat lah saya ke Pantai Bodri ini. Ternyata sudah banyak orang tapi masih dalam jumlah yang masuk akal. Meskipun matahari belum di puncak, panasnya sudah sangat terasa. Sayang saya tak punya parasol namun tak hilang akal, saya menanyakannya ke warung di Pantai Bodri ini. Ternyata mereka mau meminjamkan parasol atau payung besar untuk ngadem. Luar biasa baik banget! Padahal saya menanyakan apakah bisa sewa, ternyata dikasih pinjem aja gitu..Tengok kanan-kiri, hampir seluruh pengunjung pantai adalah orang kulit putih. Bisa dibilang, saya satu-satunya orang Asia dari negara tropis, yang sebenarnya gak butuh-butuh amat tanning. Oh iya, jangan syok kalau kamu melihat pengunjung yang topless dan jangan mesum juga!

Apa yang saya suka dari Pantai Bodri ini? Selain pantai yang lebih sepi, saya suka pantai yang pasirnya lembut. Meskipun gak sehalus bedak bayi tapi ketika diinjak tidak sakit, itu yang penting. Selain itu, airnya jernih banget dan juga cukup tenang, cocok buat saya yang gak bisa berenang tapi mau sok-sok nge-pantai. Serunya juga, saya jadi bisa belajar berenang. Jadi puas banget main air seharian di sana.

Selain Pantai Bodri, ada beberapa pantai lainnya yang saya kunjungi. Menurut saya pantai di Corsica mampu bertanding dengan pantai di negara tropis. Asal kan kamu datang di musim panas ya! Soalnya saya lihat gambar di Google, ternyata Corsica juga bisa mendapatkan salju. Agak gak kebayang karena saat musim panas kemarin, udaranya panas banget.

Untuk keamanan sendiri, tetap pantau barang bawaan ya.. Meskipun Corsica terkenal sebagai destinasi yang aman, tapi siapa yang tahu? Jadi selalu tetap waspada. Saya sendiri untungnya tidak mengalami pengalaman buruk selama di sana.

Setahu saya, tidak ada tempat bilas di Pantai Bodri ini. Tapi ada toilet di warung tempat saya meminjam parasol. Kalau mau, ya beli sesuatu di sana untuk pakai toiletnya. Sebaiknya cari tahu juga jadwal kedatangan kereta dan rencanakan perjalanan kamu sebelumnya. Jadwal kereta cukup tepat dan harganya juga cukup bersahabat, sekitar 5 euro untuk sekali jalan dari Calvi ke L’ile Rousse atau sebaliknya. Untuk pulang-pergi, lebih murah lagi.

Ada Apa di Liechtenstein?

Ada Apa di Liechtenstein?

Sebelum saya menceritakan mengenai Liechtenstein, saya mau bertanya, apakah kamu tahu apa itu Liechtenstein? Saya sendiri lupa kapan tahu mengenai Liechtenstein namun belum lama ini saya memantau Youtube channel Geography Now. Dalam Youtube channel tersebut, Barbie, host acara Geography Now, membahas sebuah negara satu per satu. Pada episode Liechtenstein, baru lah saya kembali teringat bahwa ada negara yang bernama Liechtenstein. Pantas namanya cukup asing, jadi Liechtenstein ini merupakan salah satu negara terkecil di dunia. Liechtenstein merupakan sebuah prinsipaliti, bisa ditebak sendiri, pemimpin negara-nya adalah seorang pangeran (prince).Apa yang unik dari Liechtenstein ini? Di mana lokasinya? Salah satu fakta menarik mengenai Liechtenstein, negara kecil ini merupakan sebuah negara yang ‘double landlocked’. Salah satu negara lain di dunia yang double landlocked adalah Uzbekistan. Liechtenstein berbatasan langsung dengan Swiss di sebelah barat dan selatan serta Austria di sebelah timur dan utara.

Liechtenstein merupakan negara terkecil ke-empat di Eropa. Dengan hanya 37,877 penduduk, Liechtenstein memiliki luas wilayah sekitar 160 km2. Ibukota dari Liechtenstein adalah Vaduz, sementara kota terbesarnya adalah Schaan, meskipun hanya selisih sekitar 500 penduduk saja. Meskipun negara kecil, Liechtenstein merupakan salah satu negara dengan GDP per orang tertinggi di dunia. Mungkin mirip dengan negara tetangga kita yaitu Singapura, kecil-kecil cabe rawit.Apakah sedikit fakta di atas membuat kamu ingin berkunjung ke Liechtenstein? Sebenarnya sih kalau dipikir-pikir, Liechtenstein terkesan membosankan. Alasan saya datang ke sana selain ingin cek ‘been there’ juga ingin membandingkan seberapa membosankannya Liechtenstein dibanding Swiss.
Bagaimana Cara ke Liechtenstein?
Lewat Swiss — Cara yang saya gunakan adalah melalui Swiss. Saya berangkat dari kota Jenewa pagi-pagi sekali. Sekitar pukul 7 pagi, saya naik kereta ke Zurich. Kemudian dilanjutkan dengan kereta dari Zurich ke Sargans. Total perjalanan dari Geneva – Zurich – Sargans adalah sekitar 4 jam. Kemudian dari Sargans, kamu harus melanjutkan perjalanan menuju Vaduz (Post) dengan bus nomor 11 selama 30 menit.

Lewat Austria — Cara lainnya adalah lewat Feldkirch, Austria. Dari Feldkirch Bahnhof (stasiun), kamu bisa naik bus nomor 13 atau 11 menuju Vaduz (post) selama 44 menit. Kalau saya kemarin, masuk lewat Sargans, kemudian keluar Liechtenstein melalui Feldkirch. Saya cukup menyarankan kamu untuk menengok Feldkirch, Austria, kotanya kecil namun cukup menawan.

Ada Apa di Liechtenstein?
Keuntungan dari micro-state adalah kamu bisa menjelajahi hampir seluruh negara ini hanya dalam waktu satu hari. Untuk mengenal Liechtenstein, kamu bisa memulai penjelajahan di Vaduz, ibukota di negara terkecil ke-6 di dunia ini.

Schloss Vaduz
Dalam bahasa Inggris berarti Vaduz Castle, merupakan kediaman dari keluarga kerajaan. Kastil ini berada di puncak bukit di atas kota Vaduz. Sangatlah mudah dicapai, waktu itu saya cukup berjalan kaki dari tempat pemberhentian bus di Vaduz. Sayangnya kastil ini tidak dibuka untuk umum namun kamu bisa berkunjung ke daerah sekitarnya dan berfoto di pinggir jalan layaknya rakyat jelata. Selain itu, pemandangannya cukup bagus di sepanjang jalur ‘pendakian’ ke kastil ini.

Pengalaman Traveling Ke India

Pengalaman Traveling Ke India

Ahh India 🙂

Ok, setelah membaca tulisan saya sebelumnya disini, saya yakin banget jadi banyak yang khawatir untuk traveling ke negara penuh warna ini. Ok, jadi saya akan menuliskan pengalaman saya pribadi setelah melakukan perjalanan ke India ini berdasarkan poin-poin yang dulu saya khawatirkan.

01. Jangan Makan Sembarangan

Kita pasti sudah diajarin dari kecil ya, kalau jangan makan sembarangan, jangan jajan dipinggir jalan karena banyak debu dan kotor dan masih banyak lagi deh. Perut setiap orang pun rata-rata berbeda. Ketika saya pulang liburan dari US, trus pulang ke Medan, biasanya ada 1-2 hari kalau saya dan Matt langsung makan rendang, kita bakalan dapat diare tapi……tentu saja karena kita memang suka makanan pedas jadi kalau pun dapat diare, selama ada Immodium dan Norit, we are ok haha.

Selama di India seperti yang saya perkirakan, saya tentu saja dapat diare, padahal semua temen saya gpp. Saya makan norit dan langsung mampet tanpa masalah sama sekali. Mungkin saya dapat diare itu dari samosa yang saya beli pagi hari dan baru dimakan malam hari.

Tau gak, saya paling takut sakit kalau lagi traveling, itu juga kenapa saya memilih untuk makan makanan yang lebih bersih dari restoran atau hotel. Kita hanya nyoba 2 kali makanan pinggir jalan. Setelah saya dapat diare di hari ketiga disana, semua teman langsung setuju tanpa masalah kalau kita hanya akan pergi makan di tempat yang aman saja haha.

Oya, saya juga mencoba menjadi vegetarian selama di India. Saya berhasil tanpa ada masalah. Gampang jadi vegetarian di India.

Tips : Beli makanan di restaurant atau di warung-warung lokal yang banyak didatangi orang. Saya gak makan salad atau buah potong karena takut sakit perut.

02. Hanya Minum Dari Botol Minuman Yang Masih disegel

Yaiyalah ya haha. Di Indonesia juga kita dikasih tau kayak gitu ya. Dimanapun sih seingat saya. So, biasa aja tapi….tentu karena saya takut kena sakit perut, lagi-lagi saya hanya minum dari brand Himalayan. Selain brand ini termasuk yang aman, di bungkus minumannya suka ada tulisan yang bagus banget. I love it.

Trus, setiap kali di restoran atau hotel kita juga tetap minum dari Himalayan. Pokoknya kita anak botol minuman banget lah. Suatu hari kita nyobain cheese cake paling enak disalah satu cafe di Udaipur. Pemilik restonya mendatangi kami dan bilang “kamu bisa minum dari botol ini karena saya jamin bersih” dan yah, kita minum dari botol. Alhamdullilah gpp.

03. Scams

Yah saya susah ngomong kalau ini. Sehati-hati dan sebanyak apapun jenis scam yang saya baca di India rasa-rasanya tidak pernah cukup. Selalu ada banyak cerita baru. Ada satu DM apa komen gitu di IG (lupa) dia kasih tau kalau selama disana selalu kena scam. Macem-macem pula jenisnya. Susah diprediksi gitu. Mulai dari belanja sampai money changer itu banyak banget penipuan. So, lebih baik ambil di ATM aja deh. Beneran mereka itu trik scam nya sama kayak saya dulu pelatihan di BANK menghadapi penipu di kasir bank. GILAK!

04. Bahasa Tubuh

Kita geleng kepala tanda gak mau atau NO, ehh mereka mikirnya ok. Ditungguin deh sampe kita balik lagi dan maksa harus beli. Sungguh lelah karena kadang-kadang saya males jawab tapi refleks menggelengkan kepala tanda tidak mau diganggu.

Tips : Muka ketat, gak mau senyum, dan berlalu dengan dagu diangkat. Sungguh ini bukan saya banget. Saya itu tipe yang selalu senyum soalnya hahhaa. Kata temenku, kamu ini awas ya kalau baik-baik di India. Gak boleh senyum-senyum trus. Dia khawatir banget karena baru di pesawat saya sudah dapat kenalan yang nawarin mau kasih gelang hahaha.

05. Tranportasi

Emm kita hanya naik pesawat dan sewa mobil so hampir tidak ada masalah. Supir dan perusahaan tempat kita sewa mobil juga service nya bagus parah. I love it.

Oya kita naik tuk-tuk deng beberapa kali karena Tita suka dan untuk masuk ke gang-gang kecil, kita suka sih tapi untuk deal harga diserahkan ke orang hotel ajalah or…..kita cek harga UBER dulu haha. Trus setelah tau harga Uber, kita tawar separoh harga or 80 % nya. Ini keuntungan jalan dengan 2 temen yang otaknya bisnis banget hihihi.

DEVOYAGE BOGOR, WISATA SELFIE BERTEMA EROPA YANG CANTIK

DEVOYAGE BOGOR, WISATA SELFIE BERTEMA EROPA YANG CANTIK

Wisata selfie berlatar kota-kota Eropa emang ga pernah bikin bosen, walau udah ada Farmhouse dan Kota Mini di Bandung, dan Little Venice di Cipanas, tempat wisata bertema sama kembali hadir di Jawa Barat, tepatnya di kota Bogor.  DeVoyage, di tempat wisata ini Boboers bisa menemukan banyak icon-icon wisata Eropa mulai dari menara Eiffel, kanal-kanal di Venice, kincir angin ala Belanda, dan bangunan-bangunan unik seperti di kota-kota benua biru.

Tiket masuknya engga pake mahal, cuma Rp. 25.000, Boboers bisa keliling Eropa rasa Bogor yang panas :p Serius deh, Bocan kesana pertengahan Oktober cuacanya masih panas banget. Tips buat Boboers, sebaiknya kalau kemari bawalah payung-payung cantik, selain bisa menghalau terik matahari, payung cantiknya juga bisa jadi aksesori foto biar tambah kece Saat masuk, tas Boboers akan diperiksa karena kita ga boleh bawa makanan atau minuman dari luar. Di dalem DeVoyage ini ada warung-warung cantik yang jual makanan dan minuman sih, tapi harganya pasti lebih mahal dari harga normal di warung biasa. Bocan sih ga jajan apa-apa di dalem Devoyage, cuacanya yang panas kebangetan bikin ga betah lama-lama di sini, apalagi Reynand udah cranky.

Jadi Bocan cuma masuk ke dalem sebentar, trus numpang ngadem di bangku yang dapet bayangan pohon atau bangunan buat neduh. Suami yang keliling hunting foto. Bocan kemari pas hari kerja ya, jadi ga terlalu rame dan bisa dapet foto yang ga keganggu penampakan orang lain Dari Jakarta Bocan jalam jam 9 pagi, sampe DeVoyage sekitar jam 11.30, pas sampe Bocan langsung maksi dulu karena anak-anak juga udah pada laper. Resto di Devoyage ini namanya DeResto, bangunannya juga instagramable banget, tempatnya teduh karena dikelilingi pohon-pohon besar. Bangunanya memiliki glass wall design, jadi makin berasa sejuk karena bisa lihat hijau-hijau dari dalem restonya.Harga makanannya mayan mahal ya, dan rasanya kurang pas dilidah.

Bocan pesen Sop Konro, Agli Olio, Kentang Goreng, Sup Labu, Jus Stroberi, dan es teh manis, total abis Rp.300.000’an. Tapi makannya kurang puas banget, sop konronya jauh dari ekspektasi, agli olionya juga standar, kentang gorengnya doang yang enak Di Devoyage ini ada jalan sambung menuju Rumah Air juga Boboers, karena lokasinya emang deketan banget. Jadi lokasi DeVoyage ini ada di dalem perumahan Bogor Nirwana Residence, sebelahan sama The Jungle dan persis di seberangnya hotel Aston Bogor. Mau tahu rute jelasnya? Cukup instal Waze di HP Boboers 😛

ABOUT

Untuk Menjalin kerjasama atau mempererat silahturahmi bisa contact email ke email pribadi saya aminnudin431@gmail.com atau bisa lewat WA ke 089681995468

MEMBER OF

COPYRIGHT

Copyright © 2018 All Right Reserved
www.inigoes-adventures.com